Sukanto Tanoto Mencontohkan Keseimbangan dalam Pengelolaan Industri Kehutanan di RGE

By | 31 Agustus 2018

Image Source: Aprildialog.com

Pandangan pengusaha Sukanto Tanoto mengenai bisnis sangat menarik. Ia tidak mau sekadar mencari profit dalam berbisnis. Harus ada keseimbangan dengan memberi manfaat kepada pihak lain. Oleh karena itu, bersama Royal Golden Eagle (RGE) yang didirikannya, ia mampu berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam.

            RGE didirikan oleh Sukanto Tanoto pada 1973. RGE memiliki beberapa grup bisnis yang bergerak di bidang pemanfaatan sumber daya alam. Asetnya mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dan mempekerjakan karyawan hingga 60 ribu orang.

Anak-anak perusahaan RGE beroperasi di berbagai sektor berbeda. Namun, sebagian besar berkecimpung di industri kehutanan seperti pulp dan kertas, kelapa sawit, selulosa spesial, dan serat viscose.

Bisnis yang mereka tekuni bukan bidang yang mudah. Industri kehutanan merupakan sektor yang butuh kecermatan dan keseriusan untuk dikelola. Pasalnya, jika tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap alam.

            Ini pula yang membuat label negatif kerap disematkan ke industri kehutanan. Mereka dituding menjadi pemicu kerusakan alam. Padahal, anggapan tersebut tidak tepat. Hal itu dibuktikan secara nyata oleh Sukanto Tanoto melalui RGE. Ia mampu mengarahkan perusahaannya untuk mampu memanfaatkan potensi alam secara bertanggung jawab. Dengan kata lain, perlindungan lingkungan bisa tetap dilakukan.

            Selama ini kontribusi industri kehutanan bagi perekonomian bangsa tidak bisa dipandang remeh. Sebagai contoh adalah nilai ekspor produk olahan kayu. Belakangan trennya selalu meningkat dengan nilai yang signifikan bagi perekonomian bangsa.

            Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Bambang Hendroyono, menyebutkan, dalam lima tahun terakhir, ekspor produk kayu nasional cenderung meningkat. Pada tahun 2012, nilainya mencapai 6 miliar dolar AS, tapi pada tahun 2017 telah menembus angka 11 miliar dolar AS.
“Memasuki 2018, pada bulan Januari saja, ekspor produk kayu telah menghasilkan sebesar 1 miliar dolar AS. Sampai akhir 2018 bisa mencapai 12 miliar dolar, minimal,” kata Bambang seperti dilaporkan oleh Antara.

            Adapun produk kayu yang diekspor tersebut sangat beragam. Komoditasnya meliputi kertas, kayu lapis, bubur kertas (pulp), furnitur kayu, kayu olahan, serpih kayu, kerajinan kayu, veneer, bangunan prefeb, partikel board, dan produk kayu lainnya.

            Oleh sebab itu, tidak seharusnya industri kehutanan dianggap negatif. Sebab, kontribusinya bagi bangsa amat besar.

            “Kalau semua ditekankan pada lingkungan hidup, kita tidak akan berkembang. Tetapi kalau semua dibabat habis, lingkungan akan rusak jadi harus ada keseimbangan,” kata Sukanto Tanoto.

            Sukanto Tanoto tidak asal memberi saran. Ia sudah membuktikan bahwa industri kehutanan mampu berkontribusi besar kepada perekonomian dengan tetap berpegang terhadap prinsip keberlanjutan. Hal itu ditunjukkan secara nyata di anak-anak perusahaan RGE.

            Grup APRIL misalnya. Mereka tercatat sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Kapasitas produksi terpasang per tahun terbilang tinggi. Setiap tahun, mereka mampu menghasilkan pulp 2,8 juta ton dan kertas sebanyak 1,15 juta ton. Kendati begitu, operasional APRIL tidak merusak alam.

            Justru sebaliknya, perusahaan Sukanto Tanoto ini mampu aktif melindungi alam. Bagaimana caranya? Hal itu dimulai dari pemenuhan bahan baku produksi berupa kayu. APRIL tidak memperolehnya dari hutan alam. Mereka memilih menanam pohon akasia di lahan perkebunan seluas 480 ribu hektare yang dimiliki. Dari situ, mereka memastikan suplai bahan baku terus terjaga.

MEMPERKUAT KONSERVASI

Image Source: Aprildialog.com

Keseimbangan dalam pengelolaan industri kehutanan yang dimaksud oleh Sukanto Tanoto adalah kesadaran untuk memperhatikan konservasi alam. Selama ini, hal tersebut kerap dilupakan oleh para pelaku usaha.

            Namun, RGE berbeda. Hal itu sudah menjadi bagian dari operasional keseharian di perusahaan. Contoh nyata yang dilakukan oleh APRIL. Selain menolak praktik deforestasi dalam mendapatkan bahan baku, mereka juga konsisten melakukan konservasi.

            Saat ini, APRIL memiliki lahan konsesi seluas satu juta hektare. Namun, tidak semua dijadikan area produksi. Justru hanya separuhnya yang digunakan untuk keperluan operasional perusahaan.

            Sebanyak 23 persen dari lahan konsesi APRIL malah dibuka untuk masyarakat sebagai sumber penghidupan. Sedangkan sisa 27 persen lahan dipakai untuk kawasan konservasi yang memastikan kelestarian alam.

            Langkah ini patut diapresiasi. Sebab, luas lahan konservasi dan area untuk publik jauh di atas ketentuan yang diberlakukan. Perlu diketahui, pemerintah hanya mewajibkan perusahaan menyisakan sepuluh persen lahannya untuk konservasi. Selain itu, area yang diperuntukkan bagi publik sebenarnya juga cuma 20 persen. Semua itu di bawah yang dijalankan oleh APRIL.

            Lebih hebat lagi, APRIL menjalankan konservasi secara serius. Sejak tahun 2005, APRIL telah berkomitmen pada konservasi hutan yang bernilai tinggi terhadap lingkungan dalam area-area konsesinya. Mereka juga sudah melakukan 37 kajian Nilai Konservasi Tinggi (NKT) atau High Conservation Value (HCV) dengan menggunakan Perangkat HCV Indonesia (HCV Indonesia Toolkit).

Dari semua itu, APRIL tercatat mampu melestarikan dan melindungi lebih dari 250.000 hektar hutan NKT di dalam wilayah konsensinya. Ini merupakan bentuk nyata keseimbangan antara produksi dan perlindungan alam.

Sukanto Tanoto merasa hal tersebut sangat penting. Sebab, kalau alam tidak dilindungi, manusia akan merasakan efek negatif kerusakan lingkungan seperti bencana alam dan penyakit. Namun, kalau potensi alam tidak dimanfaatkan, maka penghidupan manusia juga akan terganggu. Oleh sebab itu, semua mesti diseimbangkan.

“Keseimbangan adalah tantangan pemerintah saat ini, yaitu antara lingkungan, lapangan kerja, dan ekonomi,” papar Sukanto Tanoto.

Penyeimbangan antara produksi dan perlindungan alam di tubuh RGE tidak hanya dilakukan oleh APRIL. Anak perusahaan lain seperti Asian Agri dan Apical juga menjalankan hal serupa. Sebagai perusahaan yang sama-sama bergerak dalam industri kelapa sawit, mereka berusaha membuktikannya dengan menjalankan perkebunan berkelanjutan.

Sebagai contoh adalah keputusan Asian Agri dan Apical. untuk  menandatangani Sustainable Palm Oil Manifesto (SPOM).  Perlu diketahui, SPOM adalah komitmen untuk tidak melakukan deforestasi di kawasan dengan Nilai Stok Karbon tinggi. Menandatangani memastikan sebuah institusi tidak merusak hutan alam.

Selain itu, penandatangan juga wajib menjaga transparansi dan keterlacakan jalur suplai bahan bakunya. Untuk Asian Agri dan Apical, ini berarti mereka bisa menunjukkan bahwa bahan bakunya berasal dari sumber yang legal dan dihasilkan dari praktik yang bertanggung jawab kepada alam.

SPOM juga mengharuskan Apical dan Asian Agri melakukan perlindungan di lahan gambut. Ini juga butuh komitmen kuat karena karakter unik lahan gambut memerlukan keseriusan dalam pengelolaan.

Tidak aneh, standar SPOM dirasa lebih tinggi dibanding sertifikasi lain seperti Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Padahal, RSPO sudah menjadi rujukan bukti praktik keberlanjutan dalam industri kelapa sawit. Asian Agri dan Apical juga telah menjadi anggota RSPO.

Namun, dua perusahaan Sukanto Tanoto itu mau saja melakukannya. Mereka rela menjalaninya karena ingin menunjukkan keseimbangan antara produksi dan perlindungan alam dapat dilakukan secara nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *